Hadis Qudsi Yang Menusuk Hati. | Oleh: Ust Faidul Akbar

Ust Faidul Akbar
0

riwayat hikmah (atsar qudsi) yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi:
​Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

​“Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau takut kepada orang yang memiliki kekuasaan selama kekuasaan-Ku masih kekal, dan kekuasaan-Ku tidak akan pernah sirna selamanya.

​Wahai anak Adam, janganlah engkau cemas akan sempitnya rezeki, sementara perbendaharaan-Ku senantiasa penuh melimpah, dan perbendaharaan-Ku tidak akan pernah habis selamanya.

​Wahai anak Adam, Aku menciptakanmu untuk beribadah, maka janganlah bermain-main (lalai). Dan Aku telah menjamin rezekimu, maka janganlah membebani dirimu hingga letih.”
​(Penjelasan Syaikh asy-Sya’rawi di tengah kutipan):
“Jangan sekali-kali engkau mengira letih di sini maksudnya adalah raga dan fisikmu. Maksudnya adalah jangan biarkan batin dan hatimu letih karena tersibukkan oleh rezeki. Raga yang beramal, sedangkan kalbu yang bertawakal. Anggota badan bekerja, tetapi hati tetap berserah.”

​“Aku menciptakanmu untuk beribadah, maka janganlah lalai. Dan Aku menjamin rezekimu, maka janganlah risau. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku:
​Jika engkau rida dengan apa yang telah Aku bagikan untukmu, niscaya Aku tenangkan kalbu dan badanmu, serta engkau tercatat mulia di sisi-Ku.
​Namun jika engkau tidak rida dengan apa yang Aku bagikan untukmu, maka demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh akan Aku kuasakan dunia atas dirimu; engkau akan pontang-panting mengejarnya bagaikan binatang liar berlari kencang di padang belantara, lalu engkau tidak akan memperoleh darinya kecuali apa yang telah Aku takdirkan bagimu.

​Wahai anak Adam, Aku telah menciptakan seluruh langit dan bumi tanpa merasa letih sedikit pun dalam menciptakannya. Apakah Aku akan merasa payah hanya untuk mengalirkan sekerat roti kepadamu?
​Wahai anak Adam, janganlah engkau menuntut kepada-Ku rezeki hari esok, sebagaimana Aku tidak menuntut kepadamu amal untuk hari esok.
​Wahai anak Adam, Aku mencintaimu (inilah hakikat asma-Nya: Al-Wadud). Maka demi hak-Ku atasmu, jadilah engkau pencinta-Ku!”

​Syarah Perspektif Ulama 

​Teks yang dibawakan mengenai relasi antara tauhid, kalbu, dan amal lahiriah:

​1. Istirahat Kalbu dari Beban Pengaturan (Tadbir)
​Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari dalam kalam Al-Hikam menegaskan kaidah:
​“Istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu (yang telah diatur oleh Tuhanmu). Apa yang telah ditanggung oleh selain dirimu untukmu, janganlah engkau sibukkan dirimu menanggungnya.”
​Ketika Allah berfirman: “Jika engkau rida... Aku tenangkan kalbu dan badanmu,” kaum sufi memandangnya sebagai kedudukan al-faragh (kelapangan batin). Kegelisahan manusia bukan lahir dari sedikitnya rezeki lahiriah, melainkan dari kekeringan rida (su'ul adab) terhadap pembagian takdir (qismah azaliyah).

​2. Memisahkan Amal Raga (Kasb) dan Tawakal Batin
​Penjelasan Syaikh asy-Sya’rawi: “Al-jawarih ta’mal wal qulub tatawakkal” mencerminkan doktrin utama tasawuf Sunni (sebagaimana diajarkan Imam Al-Ghazali dan Sahl at-Tustari):
​Syariat pada raga: Menuntut sebab (asbab), ikhtiar, dan bekerja keras menunaikan kewajiban.
​Hakikat pada kalbu: Berpaut mutlak pada Sang Penyebab (Musabbib al-Asbab).
​Apabila kalbu ikut memikul beban ikhtiar materi, seseorang akan terjebak dalam rasa takut kepada makhluk atau cemas akan rezeki. Itulah makna tat’ab (keletihan batin yang melelahkan ruhani).

​3. Hijab Duniawi dan Jiwa Kebinatangan (Rakdh al-Wuhusy)
​Analogi “berlari bagaikan binatang liar di padang belantara” menggambarkan keadaan orang yang terhijab (mahjub) oleh hawa nafsu dan keserakahan (thama’). Jiwanya turun derajat dari martabat ruhani menjadi martabat hewani (al-quwwah al-bahimiyyah); tubuhnya lelah mengejar dunia, namun takdirnya tidak pernah bertambah sebutir debu pun dari apa yang telah tertulis di Lauhulmahfuz.
​4. Puncak Maqam: Dari Takut Menuju Cinta (Mahabbah)

​Kalimat penutup: “Aku mencintaimu, maka jadilah pencinta-Ku” adalah inti sari tasawuf. Para ulama ‘arifin menjelaskan bahwa cinta Ilahi mendahului cinta hamba, merujuk pada firman Allah: “Yuhibbuhum wa yuhibbunahu” (Dia mencintai mereka, lalu mereka mencintai-Nya).
​Tingkatan ibadah tertinggi bukan lagi sekadar ibadah saudagar (mengharap balasan surga) atau hamba sahaya (karena takut siksa), melainkan ibadah para pecinta (‘asyiqin) yang menyembah Allah semata-mata karena cinta dan pengagungan kepada-Nya.
​#SyaikhSyrawi #KalamHikmah #Tasawuf #MuhasabahDiri #NasihatUlama #Tawakkal #HakikatRezeki #AlHikam #CintaIlahi

Posting Komentar

0Komentar

Terimakasih atas komentar anda.

Posting Komentar (0)

#buttons=(saya terima !) #days=(100)

Ingat Website Ust Faidul Akbar di prangkat anda agar lebih mudah membukanya. website resmi ust. Faidul Akbar
Accept !