Tuan Guru Faidi sumber Inspirasi Ustadz Faidul

Ust Faidul Akbar
0






TGKH. Muhammad Faidi Muqoddam, QH., SH. adalah sosok yang menjadi titik balik dalam sejarah dakwah di Kecamatan Lunyuk. Lahir di Dusun Sengkrang, Lombok Tengah pada 2 Juli 1965, beliau dibawa orang tuanya berhijrah ke Desa Padasuka, sebuah wilayah terpencil yang dikelilingi hutan belantara dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Atas perintah langsung dari Maulana Asy-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, beliau kembali ke Padasuka untuk berdakwah di tengah masyarakat yang saat itu masih sangat awam terhadap ilmu agama.

Meski banyak menghadapi tantangan dan penolakan, beliau dengan penuh ketekunan mendirikan pendidikan diniyah, kemudian membangun madrasah NW yang menjadi cikal bakal berdirinya RA, MI, MTs, hingga MA di seluruh Kecamatan Lunyuk. Beliau juga menjadi Kepala Desa pertama Padasuka, Ta'mir Masjid Al-Ihsan, serta perintis Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan pertama di Kabupaten Sumbawa. Semua itu beliau lakukan tanpa pamrih, semata-mata karena tanggung jawab terhadap umat.

Dari pernikahan beliau dengan Rauhun QH, lahirlah seorang putra yang kelak akan meneruskan perjuangan tersebut. Saya, Muhammad Faidul Akbar, lahir pada 17 Desember 1993 di tengah lingkungan pondok pesantren yang sama. Sejak kecil, saya sudah merasakan langsung didikan keras dan penuh disiplin dari Abah. Meski sempat melalui masa yang sangat berat — termasuk harus meninggalkan rumah dalam keadaan terpaksa di usia yang masih sangat muda — perjalanan hidup saya justru menjadi proses panjang pembentukan karakter. Saya menempuh pendidikan di berbagai daerah, dari Lombok hingga Jawa, bahkan sempat merantau jauh dengan bekal yang sangat terbatas.

Saya belajar di pesantren, menempuh pendidikan formal, memperdalam bahasa Arab dan Inggris di Pare Kediri, hingga menyelesaikan S1 dan S2 sambil bekerja dan berjuang tanpa membebani orang tua. Selama masa perantauan itu, saya terus membawa dalam hati janji untuk suatu saat membanggakan orang tua dan meneruskan perjuangan yang telah dirintis Abah. Pada tahun 2017, Abah meninggal dunia. Saya pun pulang ke Lunyuk untuk melaksanakan kewajiban sebagai anak.

Tahun 2018, melalui musyawarah yayasan, saya diangkat menjadi Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren NW Padasuka menggantikan posisi Abah. Saat itu saya merasakan betapa beratnya tanggung jawab yang harus saya pikul. Abah telah merintis segalanya dari nol, sementara saya harus melanjutkan dengan pengalaman yang masih sangat terbatas. Namun kesadaran itu justru semakin memperkuat saya. Saya mulai melanjutkan dan menyempurnakan apa yang pernah dirintis Abah.

Saya membangun kembali pondok pesantren di lokasi-lokasi yang dulu beliau rintis, termasuk di tempat yang sulit dijangkau, tanpa listrik, dan jauh dari keramaian. Saya tinggal di sana bersama istri dalam kondisi yang serba terbatas, membangun dari pondasi yang ditinggalkan. Hingga saat ini, kami telah berhasil membangun dan mengembangkan beberapa pondok pesantren, sekolah, serta lembaga sosial di beberapa kabupaten, antara lain di Sumbawa, Lombok Timur, Dompu, dan Bima. Semua ini saya lakukan bukan karena saya merasa mampu, melainkan karena saya sadar bahwa perjuangan Abah tidak boleh terhenti.

Ketekunan, tanggung jawab terhadap umat, dan semangat membangun pendidikan di daerah terpencil yang beliau tanamkan, kini menjadi napas perjuangan saya. Melalui peran sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren NW Padasuka, Pengurus Nahdlatul Wathan, saya terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan agama dan umum bagi masyarakat Lunyuk dan sekitarnya. Inilah perjalanan saya. Sebuah perjalanan yang lahir dari didikan keras seorang ayah, dibentuk oleh perjuangan panjang di perantauan, dan kini diisi dengan tanggung jawab besar untuk meneruskan amanah perjuangan.

Posting Komentar

0Komentar

Terimakasih atas komentar anda.

Posting Komentar (0)

#buttons=(saya terima !) #days=(100)

Ingat Website Ust Faidul Akbar di prangkat anda agar lebih mudah membukanya. website resmi ust. Faidul Akbar
Accept !